Kategori
Pendidikan

Kapitalisme Di Dalam Dunia Pendidikan

Pierogypocket – Pada masa penjajahan, para pejabat sekolah di Indonesia dan pabrikan merupakan mesin produksi bagi Ambteenar (pegawai negeri sipil) pemerintah Hindia Belanda Belanda. Merujuk pada Pramoedya, sekolah-sekolah resmi saat itu hanya melahirkan kemanusiaan dengan mentalitas “jongos dan pa”. Tampaknya kondisi kerja diwariskan hingga kini sekolah formal berada di bawah kendali masyarakat kapitalis industri dan industri (Anton Novenanto).

Modernisasi membuat saya harus bersaing dengan kewajiban lainnya. Berbagai upaya telah dilakukan untuk menemukan kepuasan atas keaslian perwujudan kehidupan. Tidak dapat dipisahkan di hadapannya dalam pendidikan. Kapitalisme menjajah dan memasuki jenjang pendidikan. Hal ini dapat dilihat oleh sebagian besar pemilik modal sebagai pengendali dan pemegang stabilitas pendidikan. Pandangan umum bahwa lebih banyak yang telah dicapai dalam reksa dana yang bervariasi di sana.

Perspektif kapitalis mendorong penggunaan penggalangan modal untuk keterampilan pribadi. Bagaimana cita-cita pendidikan nenek moyang kini dapat dielakkan sebagai pencipta pribadi yang memiliki kecerdasan emosional, intelektual dan keterampilan kini terabaikan.

Kapitalisme penyelenggara ekonomi dikendalikan oleh para pemilik modal berupa politisi yang bertanggung jawab yang mentransformasikan model pensiun masyarakat sehingga industri hanya bertujuan untuk mencari pekerjaan. Sebagaimana kita ketahui, kapitalisme memahami bahwa pemilik modal dapat membeli segala upaya untuk keuntungan pribadi. Ketika kapitalisme memasuki pendidikan sekuler, fase dasar pendidikan akan berpindah dari pendidikan atau humanisasi pribadi ke pangsa pasar.

Orang tersebut menerima pendidikan setinggi mungkin dengan tujuan mencari pekerjaan untuk mendukung kehidupan mereka. Untuk setiap orang, bagaimanapun, hanya ijazah mengikuti pelatihan sebagai prasyarat untuk aplikasi. Sebab, makna sekolah yang dulu diciptakan untuk pembentukan karakter manusia, telah berubah fungsi pengajarannya untuk kepentingan ijazah. Pasalnya, tradisi rekayasa, penjiplakan, dan korupsi merupakan praktik yang biasa dilakukan para pelaku pendidikan.

Dunia bangunan sekarang diatur oleh pemilik ibukota hanya untuk mematuhi aturan. Bagaimana kebaktian sekolah diadakan pada hari kerja, selain sekolah Pomeranian, tutorial, kursus dan lain-lain. Siswa dipermudah hanya dalam dunia pendidikan formal. Kebijakan pendidikan hanya diperbolehkan untuk beralih antara pengetahuan profesional dan spesialis untuk menguasai wilayah kapitalis.

Dilansir dari situs riverspace.org, pendidikan sebagai promosi warna berpengalaman, adalah ikan yang tak ternilai bagi perkembangan manusia. Akan tetapi, pendidikan dengan kutukan kapitalisme berarti bahwa pendidikan tidak dalam hakikatnya yang sebenarnya. Pendidikan harus menjadi sarana kemandirian, sebagai pembebasan dan kekuatan inspirasi untuk perubahan dan pembaruan. Namun pada kenyataannya pendidikan menitikberatkan pada sistem yang diciptakannya sehingga hakikat pendidikan ditransformasikan menjadi pergaulan bebas.

Kapitalisme dalam dunia pendidikan juga telah melahirkan kelompok masyarakat yang berubah sesuai dengan status sosial dan ekonominya. Dengan kekuasaan atas kebijakan pemilik modal, maka sistem pendidikan akan berubah. Baik dari segi ekonomi bukan dari pendidikan dan biaya sosial. Hal ini menciptakan kesenjangan bahwa pendidikan berkualitas tinggi hanya dapat dinikmati oleh sekelompok pemenang teratas.

Siswa diperlakukan sebagai konsumen dalam sistem pasar korporat. Perbedaan biaya sekolah yang berbeda menyebabkan pendidikan yang tidak merata. Semakin baik solvabilitas konsumen, semakin besar peluang untuk memiliki akses ke lembaga pendidikan bergengsi dengan perlengkapan mewah.

Selain itu, kapitalisme menjadikan pendidikan sebagai proses yang tidak menjadikan manusia sebagai manusia dan hanya menyebabkan berkurangnya solidaritas. Jika pendidikan dilanjutkan dengan gagasan kapitalisme, individu cenderung bersaing untuk ego pribadi. Misalnya, sistem pendidikan sekolah saat ini hanya kompetitif. Persaingan yang meningkat hanya membuat seseorang menjadi kurang rendah hati (lebih menyukai persaingan tetapi tidak mengenal lawannya).

Masa depan cerah harus diimbangi dengan upaya yang dilakukan. Begitu pula dengan pemburu ilmu yang hanya menginginkan satu posisi. Mungkin berburu ijazah adalah cara bagi mereka untuk mencapai kehidupan sosial yang mereka anggap layak. Kembali ke kenyataan bahwa orang yang belajar benar-benar ingin menuju ke gelar dan pekerjaan yang menjanjikan. Suka atau tidak suka, mereka akan tetap menerima cara kerja pendidikan kapitalisme.

Kapitalisme dan pendidikan terkait erat. Tidak mudah untuk melepaskannya. Masalah kapitalisme pendidikan merupakan tantangan lebih lanjut bagi pemerintah. Mengingat pentingnya mendidik masyarakat, tidak pantas bagi kita untuk tetap berada di negara ini. Diperlukan pola pikir manusia yang kritis yang mampu mengkritisi kebijakan yang secara signifikan berangkat dari hakikat pendidikan. Untuk itu, masyarakat berpendidikan harus kritis dan sadar bahwa mereka mampu mengubah situasi sosial yang cenderung merugikan.