Kategori
Umum

Ini Mengapa Jual Beli Followers Adalah Hal Berbahaya

Pierogypocket –¬†Jual beli fans Instagram merupakan hal yang sering kita jumpai di dunia maya. Ada banyak bot yang menjual pengikut secara terbuka di kolom komentar tokoh masyarakat di platform gambar. Faktanya, sekarang banyak yang menjual pengikut dengan pemasaran dalam bentuk ‘pengikut langsung’ yang dijamin, yang berarti mereka adalah pengikut sejati yang didorong oleh orang, bukan oleh bot. Dan kini, dengan diluncurkannya Mashable, seseorang bahkan dapat membeli tanda verifikasi berupa centang biru, yang dibandrol di AS dengan harga fantastis yaitu 15.000 USD (lebih dari 200 juta Rupiah). Namun, ada beberapa hal yang berbahaya jika kita menggunakan pengikut, bukan hak. Pertama, ini adalah praktik ‘pasar gelap’. Alasannya adalah kita membeli dan menjual sesuatu yang tidak boleh dijual. Jika jumlah pengikut perlu mencapai sesuatu, ada yang hanya membayar untuk mendapatkannya.

Kedua, setiap orang memiliki asumsi pertama bahwa jumlah pengikut merupakan prestasi. Jika seseorang membeli pengikut, itu berarti berbohong kepada publik. Ini juga tidak adil bagi mereka yang sebenarnya cara menambah followers banyak. Apalagi jika ada label ‘influencer’ yang benar-benar bisa bekerja di bidang yang menghasilkan uang, seperti endorsement dan brand representative. Ketiga, tampaknya berbahaya bagi demokrasi, karena penggunaan pengikut palsu bukan hanya untuk pamer, tapi untuk kepentingan politik yang menyimpang. Di Amerika Serikat, jutaan bot dan pengguna palsu di Instagram, Twitter, dan terutama Facebook berhasil memengaruhi pemilihan presiden 2016 dan memenangkan Trump. Menurut investigasi AS, ini dilakukan oleh badan penelitian internet Rusia dan menghabiskan jutaan dolar untuk membeli bot dan pengguna palsu ini.

Tak bisa dipungkiri hal ini juga terjadi di Indonesia. Terdapat lebih dari 1 juta perbincangan seputar Pilpres 2019 oleh netizen, dan analisis ini menghapus banyak akun bot dan akun palsu dari data tersebut. Dari data tersebut, hanya ada 28 persen percakapan negatif untuk Jokowi Maruf dan 12 persen untuk Prabowo Sandi, namun tentunya bisa dilihat bahwa banyak percakapan negatif yang didominasi oleh bot dan akun palsu. Bayangkan, jika percakapan negatif melalui akun nyata saja memengaruhi sekitar 20 persen dari semua percakapan politik, berapa banyak propaganda negatif yang dikeluarkan melalui akun palsu dan bentrokan? Tentu ada banyak. Secara khusus, media sosial adalah saluran informasi penting untuk menjangkau pemilih pemula yang belum memberikan suaranya, atau ‘ayunan pemilih’, kinerja bot dan akun palsu untuk memengaruhi pilihan pemilih berayun, bisa sangat berpengaruh. efek penting. .

Belum lagi bagi mereka yang belum banyak melakukan pengecekan untuk menyebarluaskan informasi atau data kepercayaan yang juntrungannya belum jelas. Dari kontribusi bot dan akun palsu yang menyebarkan informasi tidak jelas, banyak phopics dibuat dan didistribusikan secara sukarela, sangat mempengaruhi mereka yang masih bingung memilih siapa. Namun, ada beberapa hal yang berbahaya jika kita menggunakan pengikut, bukan hak. Pertama, ini adalah praktik ‘pasar gelap’. Alasannya adalah kita membeli dan menjual sesuatu yang tidak boleh dijual. Jika jumlah pengikut perlu mencapai sesuatu, ada yang hanya membayar untuk mendapatkannya.

Di AS, yang diluncurkan Mashable, penjual pengikut palsu disisir dan ditangkap. Terakhir, pejabat penegak hukum A.S. mengatakan untuk pertama kalinya bahwa menjual pengikut, preferensi, atau koneksi media sosial palsu dan menggunakan identitas palsu adalah kegiatan ilegal dan mungkin tunduk pada hukum pidana.